Kecanduan Handphone,Pemuda ini masuk RSJ.

Beberapa waktu lalu, tersiar kabar, Rumah Sakit Jiwa Dokter Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur menerima 2 pasien gangguan akibat gadget. 2 pasien tersebut terbilang sangat muda,korban masih dalam tahap pendidikan, SMP dan SMA.
Menurut Dokter Spesialis Jiwa, Dewi Prisca, mereka berdua diantar oleh kedua orang tuanya. Orang tua mereka mengaku kewalahan mengatasi kedua pemuda tersebut saat sedang bermain handphone maupun perangkat gadget lainya. Tak hanya itu kedua pasien, bahkan sampai melukai diri sendiri dan juga orang lain, setiap kali mainannya hilang atau disembunyikan.Saat ini, kedua pemuda tersebut tengah menjalani perawatan intensif. 
Rumah sakit juga bekerja sama dengan  pihak sekolah, untuk menjauhkan kedua pasien dari tugas yang membutuhkan penggunaan laptop

Fenomena di atas, dapat dikatakan sebagai nomophobia. Nomophobia adalah rasa takut atau cemas yang berlebihan dari seseorang ketika berada jauh dari perangkat mobile atau gadget.
Periset dari Hongkong mengemukakan bahwa orang-orang cenderung menggunakan handphone mereka untuk menyimpan berkas-berkas pribadi. Ketika di minta untuk menggambarkan perasaan mereka tanpa handphone, muncul pikiran bahwa mereka merasa "sendiri" saat tak bersama handpone.
" Temuan penelitian kami menunjukkan bahwa pengguna mengangap smartphone sebagai perangkat tambahan (semacam organ tubuh baru) yang melekat dengan bagian tubuh lainnya " Ujar Dr.Kim Ki Joon, salah satu peneliti
Hampir senada dengan hasil riset di Hongkong, Professor.Mark Griffiths, seorang psikolog di Universitas Nottingham Trent, mengatakan, remaja saat ini bahkan menggunakan seluruh hidup mereka untuk terpaku pada smartphone mereka.
"Orang tidak menggunakan ponsel mereka untuk berbicara dengan orang lain-kita berbicara tentang perangkat yang terhubung dengan internet (media sosial) yang memungkinkan orang untuk menangani banyak aspek kehidupan mereka," katanya
Cara terbaik untuk mencegah nomophobia, adalah dengan membiasakan diri tanpa handphone, dan banyak membaca buku.Tentu saja faktor religi tak dapat di pisahkan. 

Post a Comment

0 Comments