Inilah Akibatnya Bila Teknologi Lebih Maju Ketimbang Penggunanya

Seperti yang diketahui, dunia teknologi tak pernah lepas dari 2 tren besar, Web Applications dan Mobile Applications. Web Applications terlebih dahulu mengambil peran dalam dunia teknologi, sebelum Iphone merilis Apple pada tahun 2007. Saat itu, perkembangan teknologi seperti akan timpang menuju tren mobile. Mobile applications dapat menjadikan seseorang lebih mudah dan praktis dalam mencari informasi yang diinginkan. Namun hal itu langsung terbantahkan, saat Ethan Marcotte, menjadi pelopor web applications menciptakan teknologi yang ia beri nama Responsive Web Design, tahun 2010.

Web applications berhasil menye-ramatakan diri dan bahkan, dapat dikataan melebihi kepopuleran daripada mobile applications. Dengan RWD atau Responsive Web Design ,website akan tampil menyesuaikan diri, sesuai dengan perangkat yang digunakan untuk mengaksesnya dan tanpa perlu melakukan proses installasi terlebih dahulu dan tentunya hal ini akan menghemat storage juga termasuk kelebihan website dengan teknologi yang diciptakan oleh Ethan ini. Kemampuan tersebut membawa perubahan besar pada dunia teknologi. Tahun 2016, 65% pengguna Smartphone di US, tidak men-download 1 aplikasi pun dalam satu bulan.

Kebanyakan pengguna smartphone tersebut, hanya menggunakan aplikasi berbasis chat saja. Situasi tersebut, hampir sama dengan pengguna smartphone di Indonesia. 
Berikut adalah beberapa contoh web dan mobile applications saat ini; AMP (Accelerated Mobile Pages), Instant App, ChatBot, Google Nearby, dan Project Tango.Diawal tahun ini, kita mungkin telah akrab dengan sebutan AI atau Artificial Intelegence. Inti dari teknologi tersebut membuat teknologi agar menyerupai atau bahkan melebihi kepintaran manusia. Tentu saja kemajuan teknologi memilki dampak signifikan dalam sisi kehidupan apabila tidak dibarengi dengan kemampuan pemahaman yang cukup untuk menyeimbangkan dengan teknologi yang digunakan. Dibawah ini adalah 5 hal yang mungkin akan terjadi bila teknologi lebih maju ketimbang penggunanya ;

Timbulnya Apatis Yang Tinggi.

Saat ini, banyak pengguna smartphone yang lebih peduli dengan apa yang akan muncul pada notifications pada aplikasi chatiing mereka, ketimbang apa yang akan muncul dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja hal bukanah hal yang baik. Apabila terus dibiarkan, maka pengguna bisa saja sewaktu-waktu mengalami nomophobia, atau rasa takut yang berlebihan ketika berjauhan dengan gadget mereka. Mungkin kita masih ingat dengan kisah seorang anak dari Bondowoso, Jawa Timur, yang masuk RSJ, karena ketagihan gadget pada tahun 2017 lalu. 
Kemajuan teknologi yang memudahkan pencarian informasi, menjadikan seseorang lebih senang mencarinya sendiri dalam perangkat yang dimiliki.

Berkurangnya Kemampuan BerKomunikasi Yang Baik

Sebenarnya ini merupakan dampak turunan daripada yang pertama. Bila seseorang sudah terbiasa dengan sikap apatis, maka ia akan cenderung menjadi pribadi yang tertutup dan susah untuk melakukan komunikasi. Cenderung mereka merasa gugup ketika mencoba berkomunikasi didepan umum ataupun orang lain. Lebih tepatnya, ia hanya terpaku pada hal-hal yang ia pelajari saja. Ambil saja sebagai contoh, gamer. Mereka bisa dengan mudah menjelaskan permainan yang sehari-hari dimainkan, namun cenderung terbata-bata ketika berbicara didepan umum, atau ketika melakukan presentasi.

Pengabaian Kemampuan Literasi Informasi

Apa itu literasi informasi ? bila kita melihat pengertiannya dari Wikipedia, literasi informasi adalah kemampuan untuk mengetahui kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat  mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi. Kemampuan yang sangat langka dimiliki seseorang, apalagi dengan mudahnya akses informasi. Setiap orang dalam dunia internet berhak memberikan informasi dalam bentuk apapun, dan apabila kita tidak mempelajari sumber informasi yang jelas, bisa saja termakan oleh hoaks-hoaks murahan. Orang-orang justru langsung mencari permasalahan di internet dengan 1 referensi, tanpa membaca referensi yang lain. Tentu saja, kemampuan ini dapat dimiliki, apabila kita rajin membaca dan menelaah dengan sumber-sumber yang relevan.

Resiko Hilangnya Pekerjaan

Apatis, kurangnya kemampuan komunikasi yang baik serta kurangnya kemampuan literasi informasi, akan membuat seseorang diremehkan atau dipandang sebelah mata. Dengan perkembangan teknologi yang kian hari, kian pesat, peran seorang manusia akan dengan mudah tergantikan (apalagi sudah terkena 3 dampak teratas sebelumnya). Mungkin anda pernah tau tentang robot Erika, robot pertama yang bertugas sebagai penyiar berita.

Nomophobia 

Inilah dampak yang paling kentara, yang sempat kita singgung pada pembahasan yang pertama. Peneliti dari Hongkong, mengungkapkan bahwa orang-orang kebanyakan cenderung menggunakan smartphone mereka untuk menyimpan berkas pribadi. Ketika diminta untuk menggambarkan perasaan mereka tanpa smartphone, muncul pikiran bahwa mereka merasa "sendirian" saat tak bersama smartphone
 Temuan penelitian kami menunjukkan bahwa pengguna menganggap smartphone sebagai perangkat tambahan (semacam organ tubuh baru) yang melekat dengan bagian tubuh lainya. Dr Kim Ki Joon.
Professor. Mark Griffits,seorang psikolog dari Universitas Nottingham Trent, juga mengungkapkan pernyataan yang berbunyi
Orang tidak menggunakan ponsel mereka untuk berbicara dengan orang-orang lain-kita berbicara tentang perangkat yang terhubung dengan internet (media sosial) yang memungkinkan orang untuk menangani banyak aspek kehidupan mereka
Cara terbaik untuk mencegah semua itu adalah, bijak dalam penggunaan teknologi.

Post a Comment

0 Comments