Efek Teknologi Di FIFA World Cup Rusia 2018


Halo Sobat Lautan, masih dalam euforia World Cup ya ? 
Ya, akhir-akhir ini sedang marak pemberitahuan dari berbagai media sosial mengenai sepak bola, dengan tajuk utamanya adalah World Cup Rusia 2018. 

BTW, kalian dukung ya sobat ?, 
Ya, Lautan harap indonesia dapat masuk ke Piala Dunia, entah kapan waktu akan terjadi, tetapi sebagai fans yang setia, Lautan akan terus menunggu sampai itu terjadi, 

Ya, seperti menunggu dirimu. eaaa 

Ada beberapa hal unik dalam Piala Dunia kali ini. Inilah piala dunia yang bisa dibilang sarat akan teknologi. Mulai dari VAR, dan Line Technology. Kedua teknologi telah unjuk gigi dalam pertandingan Piala Dunia yang telah berlangsung pada tanggal 15 Juni 2018

VAR (Video Assistant Reeferees), misalnya langsung memberikan dampaknya dalam pertandingan antara Prancis melawan Australia. Pada babak kedua, menit 51, penalti diberikan kepada tim Prancis, setelah salah seorang dari pemain Australia, melakukan pelanggaran dikotak penalti. 

Antoine Griezman, eks pemain Real Sociedad yang ditunjuk sebagai algojo penalti, sukses menjaringkan si kulit bundar kedalam gawang yang dikawal oleh Ryan. Lihat cuplikanya dibawah ini..


Juga masih dalam pertandingan yang sama, kali ini Prancis mendapatkan keuntungan dengan adanya teknologi dalam sepakbola. Goal kedua prancis lahir dari pemain andalan MU (Mang Ujang), pada menit 81. Meskipun akhirnya goal tersebut disahkan sebagai goal bunuh diri, Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Prancis 


Bandingkan dengan beberapa Piala Dunia yang telah diselenggarakan sebelumnya. Tentunya anda masih ingat dengan tragedi dianulir Goal dari legenda WestHam United, Frank Lampard, saat menghadapi Jerman, piala dunia 2010. Saat itu, skor masih 2-1 untuk keunggulan Jerman. Bila saja goal Lampard, tidak dianulir mungkin saja hasil akhir akan berbeda. Ya skor 4-1 untuk kemenangan Jerman


Majunya teknologi, tidak hanya dapat merambah dalam dunia umum saja, namun juga beberapa aspek yang melibatkan emosional, seperti olahraga. 
Ya, sepak bola bukanlah sekedar olahraga biasa. Terkadang wasit menjadi bulan-bulanan pemain ketika salah dalam memimpin suatu pertandingan. Bahkan tak jarang, banyak tim yang tidak mau melanjutkan pertandingan karena kontroversi dari wasit, seperti yang sering terjadi dalam Liga Indonesia.

Ada beberapa poin menarik mengapa VAR dan Line Technology begitu disegani oleh para pemain, selain tentunya margin of errornya yang kecil. Simak video-video dibawah ini untuk mengetahui, cara kerja dari VAR




VAR sendiri bukanlah teknologi baru. Sistem ini telah sukses di ujicoba di kejuaraan sepakbola inggris, yakni FA Cup dan Carabao Cup, Tak Lupa pula didalam liga Jerman dan Italia. VAR sendiri terdiri dari 4 anggota, yakni Asisten Wasit Video, dan tiga asisten lainnya, yakni AVAR1, AVAR2, dan AVAR3. 
Setiap asisten memiliki kinerja yang berbeda-beda. Berikut adalah penjelasannya ;
  1. AVAR 1, berkonsentrasi pada kamera utama, dan konfirmasi langsung pada VAR, saat terjadi pelanggaran
  2. AVAR 2, asisten yang berada pada stasiun offside, gunanya mengawasi setiap pergerakan pemain yang terperangkap atau dalam posisi offside
  3. AVAR 3, asisten yang berguna untuk menghubungkan komunikasi antara VAR dengan AVAR 2.
Perlu diketahui pula, bahwa VAR memiliki 33 akses kamera siaran, dengan 8 diantaranya bertindak sebagai kamera super slow-motion dan 4 lainya ultra slow-motion


Namun seperti halnya teknologi lain, VAR sempat ditolak karena alasan akan mengurangi keseruan dalam dunia sepakbola yang memang sarat akan pelanggaran dan kontroversi. Seperti caption yang dibuat oleh panditfootball.com dibawah ini.


Setiap orang memiliki perspektifnya masing-masing, namun kemajuan teknologi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti apalagi dilawan. 
Karena pencipta teknologi adalah manusia, maka teknologi-lah yang harus "takut" pada manusia, bukan manusia yang harus takut pada kemajuan teknologi. Bahkan bukan tidak mungkin, beberapa tahun kedepan, kita akan melihat robot-robot bertanding dalam piala dunia, seperti halnya film Real Steel, menggambarkan kehidupan seorang anak dengan robot petinjunya.

Bagaimana tanggapan anda ? Perlukan sepakbola diisikan dengan robot ?

Post a Comment

1 Comments