Membangun Sikap Literasi Digital Generasi Muda


Halo Sobat Lautan, semoga sehat selalu ya :)
Kali ini, tentang akan membahas tentang topik kesukaan Lautan, Literasi Digital.
Ya ,tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk membangun sikap literasi digital didalam diri kita masing-masing.

Di era teknologi sekarang ini, masyarakat mendapatkan kemudahan yang sangat sangat kentara dalam hal akses informasi. 
Masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan berbagai jenis informasi, berbagai format, hanya dengan menekan tombol on off Televisi ataupun mengaktifkan paket data selular smartphone. 
Dalam sekejap, ribuan informasi langsung tertuju kepada diri kita. Sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang-orang yang dikategorikan kedalam generasi X, apalagi baby boomers


Pernahkah anda bertanya, kepada entah itu kakek atau nenek (apalagi veteran perang) tentang bagaimana cara mengirimkan sebuah pesan melalui sms di handphone ?. 
Beberapa mungkin dapat menjawabnya, tapi juga cepat lupa untuk melalukannya kembali

Bahkan teknologi, seperti memiliki jiwa "memandu" generasi X. 
Layaknya notifikasi pada aplikasi berbasis chat atau email. Mungkin anda, tidak akan risih dengan adanya simbol notifikasi yang ada diaps kalian. 
Namun, tidak berlaku untuk rerata generasi X, Generasi X cenderung "ingin tau" informasi tersebut, meskipun sebenarnya, bisa saja itu hanya pemberitahuan periklanan.

Ya, harus diakui, mungkin karena kita lebih mudah memahami cara akses informasi dan hampir setiap hari selalu mendapatkan informasi. 
Tentunya, ini akan mengurangi rasa kepo kita terhadap informasi, terutama di dalami lebih jauh. 
Sebaliknya, kita hanya akan mencari informasi ketika hanya dalam keadaan terjepit saja, contohnya saat mencari tugas. 

Sisanya, ?

kita terlalu asik untuk Scroll Down akun-akun hiburan yang menampilkan meme-meme lucu.



Lautan tidak akan membahas tentang efek ketagihan gagdet ataupun efek-efek lain yang sejenis dengannya. 
Pastinya anda akan menemukan banyak artikel yang membahas tentang efek penggunaan teknologi yang berlebihan pada anak atau orang dewasa. 
Kita sudah mendapatkan kuncinya, kata "Berlebihan". 
Cukuplah kita mengetahui kata pepatah dulu "Sesuatu Yang Berlebihan Pasti Tidak Baik".

Bila ditilik kembali, tujuan utama perancangan teknologi digital adalah untuk mendapatkan komunikasi dan informasi.
Terkait fungsi daripada hiburan itu sendiri, hanyalah subfungsi dari perancangan teknologi digital tersebut. 
Meskipun, beberapa aplikasi dibuat khusus untuk memenuhi dari kebutuhan entertaiment layaknya game dan nada instrumental. 
Tentunya, komsumsi teknologi digital untuk entertainment haruslah dibatasi

Kembali pada masalah kurangnya rasa ingin tau terhadap informasi yang dicari, menjadi masalah kita bersama. 
Cenderung, kita akan cepat percaya terhadap informasi tersebut tanpa mendalami terlebih dahulu, atau bahkan tidak membacanya, hanya melihat headline-nya saja. 
Lautan contohkan saja ketika anda mendapatkan tugas, seperti tugas membuat program representatif pada penggunaan meta tag yang sering digunakan dalam sebuah website.
Mungkin hanya beberapa orang saja, yang penasaran ingin mendalami tag-tag meta html, atribut, dan value, yang digunakan dalam skrip tersebut. Sisanya, ya Copas.



Aneh, 
Hal ini tidak berlaku ketika anda mendapatkan informasi yang berhubungan dengan kesukaan pribadi, contoh saja pada klub bola anda.

Ketika anda mendapatkan informasi sedikit saja tentang klub bola, anda tiba-tiba tergerak mencari informasi lain yang setopik untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. 

Bayangkan !!!

Apa jadinya bila anda mendapatkan sebuah informasi atau berita dari manapun dari jenis informasi apapun, anda perlakukan sama dengan seperti ketika anda mendapatkan informasi kesukaan anda ?. 
Pastinya, tidak akan ada lagi orang-orang yang mudah termakan dengan hate speech, ataupun hoax

Sesuai dengan Pengertian Literasi Digital, ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu yang secara digital & alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis, mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, dan digunakan untuk komunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara langsung dalam masyarakat.



Sudah seharusnya, kita tanamkan sikap untuk seperti halnya Content Writer (yang jujur). Dalam dunia publisher, para Content Writer sering menggunakan teknik ATM (Amati Tiru Modifikasi) atau Rewriting. 
Tidak melanggar hak cipta, karena berita dari lemabaga penyiaran berita bukanlah sesuatu yang memiliki hak cipta. Anda dapat menemukan faktanya di UUD No 19 Tahun 2002
Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar, atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap
Poin pentingnya, ketika anda mendapatkan informasinya, jangan lupa cari nama atau hal terkait dengan informasi tersebut. 
Karena informasi diera digital, layaknya aliran air yang tak lagi terbendung. Ada kalanya kita untuk mengasah kemampuan membaca cepat. Pastinya, setiap orang memiiki kemampuan yang berbeda-beda dalam membaca cepat.

Ada yang dapat 1 artikel 1500 kata hanya dalam 2 menit, dan ada yang membaca 1 artikel 1500 kata, dalam waktu yang cukup lama 5 menit. 
Ada yang cepat mengerti, dan dapat mengambil poin-poin penting dari informasi tersebut, dan ada yang pula hanya dapat mengambil sedikit poin penting dari informasi tersebut.



Sepertinya kita pernah diajarkan oleh guru SMP atau SMA kita, tentang teknik membaca cepat. 
Sekarang kalian sadar bukan,apa kegunaannya dimasa sekarang ?
Informasi datang begitu cepat, maka dibutuhkan daya pemahaman cepat (sekaligus tepat) pula.

Berbicara tentang membaca, tentunya kita akan belajar tentang cara belajar. 
Membaca termasuk kedalam metode belajar pada umumnya, selain daripada menulis dan mendengar.
Sebenarnya, beberapa dari developer tengah berusaha untuk membangun dan merancang sistem pembelajaran yang cocok untuk anak-anak diera digital, inovatif dan tidak monoton. Bahakan di Australia, tengah dilakukan inovasi terhadap Artificial Intelligence For Smart Campus

Mungkin anda pernah dengar nama Zenius. 
StartUp teknologi berbasis pendidikan, yang didirikan oleh Medy Suharta pada tahun 2007, menjadi representatif startup pendidikan terkini.
Namun, artikel di dailysocial.idmenyebutkan perkembangan startup pendidikan atau editech indonesia, masih banyak mengalami hambatan disana sini. 
Diantara permasalahan tersebut adalah sosialisasi dan konten cara belajar

Masih nyamannya pengajar dengan metode belajar konvensional dan belum terbiasanya pelajar dengan metode pembelajaran jarak jauh seperti e-learning, video on demand, merupakan akar-akar dari 2 pokok permasalahan diatas yang telah kita sebut. 
Bukan sesuatu kecemasan, karena setiap orang memiliki metode belajarnya sendiri

Dan........

Tidak ada cara lain, membentuk generasi muda agar menjadi generasi yang memiliki Literasi Digital selain daripada belajar. 
Tentunya sikap rajin belajar ditanamkan sejak dini dalam keluarga. Tidak adanya tekanan yang begitu berat menjadi kunci mengapa belajar itu mengasyikkan. 
Pada akihirnya, Literasi Digital akan membawa kita pada Literasi Media, 
kemampuan untuk memahami, menganalisis, serta juga mendekonstruksi pencitraan media.



Post a Comment

2 Comments

  1. sudah seharusnya gan kita menanamkan semua ini terus berkarya gan berjaya terus mantapp gann

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang benar.. apalagi arus globalisasi yang tak terbendung, dan banyaknya generasi-generasi muda, yang tumbuh malah menjadi provokator atau bahkan mengikuti tren-tren bodoh

      Delete